Massa Manik Gelagapan Saat Ditanya Kerugian Pertamina Akuisisi Maurel dan Prom


Massa Manik Gelagapan Saat Ditanya Kerugian Pertamina Akuisisi Maurel dan Prom

Opini Bangsa - Sejumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempertanyakan data pembelian saham perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Prancis, Pacifico di Maurel & Prom oleh PT Pertamina (Persero).

Pembelian 24,53 persen saham dengan nilai harga EUR 4,20 per saham, ditambah premium sebesar EUR 0,5 per saham yang disepakati pada tahun lalu itu, disinyalir telah menyebabkan kerugian bagi Pertamina.

“Kami minta lapor untuk hulu migas di luar negeri, terutama Maurel & Prom. Karena kami mendapat data, tidak sedikit yang berpotensi rugi. Ini harus dibahas dan dibuk, karena BUMN itu uang negara. Coba bayangkan kita sekarang punya devisit Rp370 triliun. Ketidak seimbangan primer saja sudah Rp195 trilun artinya bunga utang itu dari penerimaan negara untuk membayar utang itu sudah dari utang,” kata Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi Gerindra, Ramson Siagian, ditulis Senin (12/6).

“Jadi harus dibuka akusisi ini, apanya harus ditutup-tutupi oleh Pertamina? soal strategi apa? Publik harus dikasih tahu blok-blok migas yang diakuisisi itu,” tegasnya.

Selanjutnya Wakil Ketua Komisi VII DPR, Satya Widya Yudha menambahkan; bahwa dia merasa perlunya penjelasan dari Pertamina, sebab saham yang diakuisisi oleh Pertamina itu merupakan saham perusahaan tertutup, sehingga sangat rentan terjadi penyimpanan dan luput dari pantauan pubik.

“Saya ingin menambahkan, itu kasus Murel and Prom yang Pertamina akuisisi itu, isunya merugi. Apalagi itu perusahaan tertutup bukan public company. Sehingga assessment waktu pembelian itu menjadi pertanyaan,” kata dia.

Menanggapi hal ini Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik menjadi gelagapan. Dia meminta untuk diadakan pembahasan dan pertemuan secara tertutup dengan Komisi VII DPR.

“Mengenai Maurel and Prom, itu kan ada 2 ladang yang produlsi dan ada 6 eksplorasi. Mungkin kedepan akan rapat tertutup. Kita review lagi, nanti kita akan sampaikan,” kata Elia Massa Manik.

Sebelumnya Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu berpendapat bahwa langkah akuisisi yang dilakukan itu sebagai tindakan penjerumusan terhadap Pertamina. Sebab, aset dan kemampuan perusahaan itu ditengarai sudah tergerus dan tidak memiliki prospek bisnis.

“Akuisisi 24,5 persen perusahaan migas perancis MP, berpotensi merugikan Pertamina, sebab dalam 2 tahun terakhir ini kinerja keuangan MP tidak bagus hal ini tertera melalui banyaknya anak perusahaan dan kantornya MP tutup serta bergabung kembali atau merger dengan bekas anak perusahaan yaitu MP internasional, serta menghentikan semua usaha ekplorasinya. Saat ini Usaha penambangan yang jalan hanya di Gabon dan Tanzania, itupun kecil saja,” kata ketua FSP BUMN Bersatu, Arief Poyuono.

Kemudian lanjutnya, jika dilihat dari sisi utang MP kepada kreditur, kondisinya juga sudah banyak yang jatuh tempo. Artinya, Pertamina yang membeli saham MP dengan harga 4,2 euro per lembar saham, sama saja ‘mengarami air laut’ dan membawa kerugian besar.

“Dari data keuangan EBITDA perusahaan MP mengalami penurunan hampir 200 persen dari 352 juta euro pada tahun 2014 menjadi 107 juta euro. Kemudian hasil penjualan produknya juga ikut terjun bebas dari 550 juta euro menjadi 276 juta euro, belum lagi nilai sahamnya yang terus terjun bebas dari kisaran 15 euro per lembar jatuh dikisaran 4 euro per lembar,” tandasnya. [opinibangsa.id / akt]


[beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini

Resep