Pendiri Telegram Sebut Amerika Serikat Adalah Negara Yang Menghianati Prinsip Mereka Sendiri

Pendiri Telegram Sebut Amerika Serikat Adalah Negara Yang Menghianati Prinsip Mereka Sendiri

Beritaislamterbaru.org - Bagi yang belum tahu, Telegram didirikan tahun 2013 oleh dua bersaudara asal Rusia, Pavel Durov dan Nicolay Durov. Keduanya dulu membuat juga media sosial VKontakte yang populer di Rusia. Tapi keduanya kehilangan kontrol atas VKontakte dan pindah ke Berlin untuk menjalankan Telegram.

Daya tarik utama Telegram adalah, user bisa mengirim pesan terenskripsi yang sangat sulit ditembus. "Fitur Secret Chat di Telegram menggunakan enskripsi end to end, tidak meninggalkan jejak di server kami, mendukung pesan yang bisa self destructing dan tidak bisa diforward. Di atas semua itu, fitur secret chat bukan bagian dari cloud Telegram dan hanya bisa diakses dari perangkat asalnya," begitu klaim Telegram.

Fitur enskripsi itu belakangan juga diberikan WhatsApp. Tapi para teroris sepertinya kadung lebih menggemari Telegram.

Dalam pembuatan Telegram, Durov bersaudara mengaku terinspirasi dari kisah mantan agen NSA Edward Snowden, yang membuka tabir bahwa pemerintah suka menyadap internet. Sehingga mereka membuat layanan Telegram sangat aman.

Pavel Durov khususnya, adalah penggemar berat Snowden yang dianggapnya pahlawan. Ketika pada tahun 2013 Rusia memberikan suaka pada Snowden yang jadi buron negaranya Amerika Serikat, Pavel pun memuji langkah tersebut.

"Negara kami membanggakan dan langkah Amerika Serikat disesalkan, sebuah negara yang mengkhianati prinsip yang mereka bangun sendiri," katanya dikutip detikINET dari CNN.

Ia pun membanggakan Telegram dan menganggap layanan lainnya buruk. "Sederhana saja, tidak ada artinya seberapa banyak aplikasi messaging di luar sana jika semuanya jelek," sebut Pavel.

Pavel tak membantah jika Telegram disukai teroris, tapi dia membela diri. "Kemungkinan kita mengalami kecelakaan mobil jutaan kali lebih tinggi daripada menjadi korban aksi terorisme," ujarnya.

Dia menilai, menyediakan semua kalangan layanan messaging yang aman lebih tinggi manfaatnya daripada risikonya. Dan pihaknya bukannya tidak peduli dengan aksi teroris, beberapa kali Telegram sudah memblokir mereka dari layanannya.

"Kami berpikir menyediakan layanan privat yang aman seperti ini untuk 99,9% orang yang tak terkait terorisme lebih berarti daripada ancaman semacam itu," tambah pria berusia 32 tahun ini.

[dtk/www.beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini

Resep