Telusur Kata Ndeso: Dari Tukul Arwana, Hidayat Hingga Ahli Bahasa


Telusur Kata Ndeso: Dari Tukul Arwana, Hidayat Hingga Ahli Bahasa

Opini Bangsa - Komedian dan presenter Tukul Arwana dikenal dengan kata ‘ndeso’ yang sering diucapkannya kala melawak. Ada yang suka namun ada juga yang menganggap kata tersebut bernada menyindir orang-orang kalangan bawah.

Namun presenter ‘Bukan Empat Mata’ itu menepis anggapan negatif soal kata yang sering dilontarkannya itu. Menurutnya kata ‘ndeso’ justru untuk menginspirasi masyarakat pinggiran agar bangkit seperti dirinya.

Menurut Tukul kala itu, “Kata’ndeso’ itu bukan untuk nyindir orang desa, tapi sebagai inspirasi untuk orang-orang supaya bangkit, ” kata Tukul tujuh tahun silam (4\/11\/2011) kepada wartawan di Jakarta.

Meski kata-kata ini ngetop, namun Tukul tak ingin mematenkan ndeso sebagai trademarknya. Lantas dari manakah kata ‘ndeso’ ciri khas Tukul itu berasal? “Dari teman-teman saya, masak TK aja DO coba! Artinya gini, walaupun ‘ndeso’ tapi ada kemauan untuk punya skill supaya lebih maju ya, itu bagus, ” ujarnya setengah bercanda.

Tukul menjelaskan, kata Ndeso itu bukan bermaksud sarkastik ataupun menyindir orang desa. Baginya kata tersebut untuk membangkitkan orang agar tidak mudah putus asa.

“Kata ndeso itu bukan untuk nyindir orang desa, tapi itu sebagai inspirasi untuk orang-orang supaya bangkit. Walaupun ndeso tapi ada kemauan untuk skill supaya lebih maju ya itu bagus. Ya udah gak apa-apa, menyenangkan orang lain,” ujarnya.

Tukul adalah salah satu figur yang mudah di kenali dengan tingkah yang orang sering sebut norak, katro dan juga ndeso. Seperti kita ketahui bersama, bahwa kata Ndeso berasal dari kata desa. Tapi dalam hal ini kata ndeso lebih mengacu ke arti sifat, yaitu sama saja dengan kampungan.

Tukul Arwana sering sekali menyebutkan kata – kata itu dalam membawakan acaranya yang di kemas sedikit komedi dan akhirnya kata – kata itu melekat sekali dengan diri dia yang orang sebut, bahwa meskipun wajah Ndeso tapi rejeki kutho. Artinya bahwa meskipun kampunagn tapi rejekinya tetep melimpah layaknya orang kota.

Kata Ndeso ada pula yang memaknai bahwa orang desa adalah kalangan yang tidak tahu apa – apa, bodoh, gaptek dan lain – lain yang mencerminkan ketertinggalan di banding dengan masyarakat kota.

Jadi Buah Bibir

Istilah “ndeso” ramai dibicarakan di berbagai media sosial. Kata “ndeso” bahkan sempat menjadi trending topic Twitter. Kata “ndeso” melambung setelah seorang pria bernama Muhamad Hidayat Situmorang melaporkan putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, dengan tuduhan penodaan agama dan ujaran kebencian (hate speech) yang berbau SARA.

Dalam video yang diunggah ke akun YouTubenya pada 27 Mei lalu berjudul #BapakMintaProyek, Kaesang mengkritik sejumlah kelompok masyarakat yang menurutnya intoleran.

Dalam laporannya ke polisi, Hidayat menyebutkan kalimat kebencian yang dimaksud ada dalam vlog Kaesang Pangarep berjudul #BapakMintaProyek. Salah satu kata yang disebut mengandung ujaran kebencian adalah “dasar ndeso”.

Dalam laporan polisi bernomor LP/1049/K/VII/2017/SPKT/Restro Bekasi Kota, tertanggal 2 Juli 2017, pelapor yang bernama Muhammad Hidayat menuliskan kalimat ujaran kebencian yang dimaksud.

Ucapan tersebut berbunyi: “Mengadu-adu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau menyalatkan padahal sesama muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso.”

Pendapat Ahli Bahasa

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito, mengatakan tidak ada unsur kebencian dalam istilah “ndeso”.“Istilah ‘ndeso’ itu konotasinya guyonan. Bukan sinis atau ada tendensi menghina pihak yang disebut ‘ndeso’,” kata Arie saat seperti dilansir Tempo, Kamis, 6 Juli 2017.

Arie, yang lama mempelajari sosiologi pedesaan, menjelaskan bahwa penyebutan “ndeso” merupakan bahasa kultural yang biasa digunakan berbagai komunitas, baik di perkotaan maupun pedesaan. Penafsiran secara umum, istilah “ndeso” itu bahasa populer untuk menunjukkan sesuatu yang terbelakang, unik, dan jauh dari kemajuan. “Orang menyebut itu untuk mengakrabkan dalam pergaulan. Tidak ada tendensi menghina,” ujar Arie.

Bahkan, dalam komunitas di pedesaan, istilah tersebut juga mereka ucapkan untuk hal-hal yang dinilai ketinggalan zaman. Semisal, mengomentari temannya yang tidak bisa menggunakan smartphone. “Tapi spiritnya guyonan. Orang desa pun tersenyum, bahkan ngguyu (tertawa) kalau dibilang ndeso,” kata Arie.

Sementara itu Dosen Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Dwi Woro Retno Mastuti mengatakan, penggunaan kata “ndeso” memang cukup familiar di kalangan masyarakat Jawa. Ndeso sendiri dapat diartikan sebagai desa atau kampung dalam bahasa Indonesia. Sedangkan dalam konotosi tertentu berarti ‘kampungan’. Di kalangan anak muda, ndeso kerap dipakai sebagai guyonan atau candaan.

“Dasar ndeso sepanjang pengetahuan saya bermakna guyon. Itu bahasa pergaulan, artinya seseorang memiliki sikap atau perilaku yang kurang pantas atau kurang berpendidikan. Sebagian orang menganggap bahwa orang desa atau wong ndeso cenderung lugu, apa adanya,” ujarnya.

Lalu apakah penggunaan kata “ndeso” selalu bermakna negatif? “Bisa positif dan bisa negatif. Tergantung bagaimana dan siapa serta situasi-kondisi kata itu diucapkan. Saya belum pernah mendapat pemahaman bahwa wong ndeso atau dasar ndeso berkonotasi dengan penistaan agama,” lanjut Woro.

Presiden Jokowi bahkan pernah dijuluki “Presiden Ndeso” oleh seorang budayawan. Namun kata “ndeso” saat itu dipandang sebagai hal yang positif untuk menggambarkan dirinya yang sederhana dan merakyat.

Selanjutnya, Donny Satryowibowo, ahli bahasa Jawa menerangkan, kata “ndeso” bersifat tidak canggih, tidak gaul, tidak update atau tidak mutakhir secara konotatif.

“Secara denotatif, ndeso itu dari tampilan fisik tidak tren, berpakaian tidak mengikuti zaman,” kata Donny Satryowibowo, Sastra Jawa Anggota ILUNI Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia, seperti dinukil dari Antaranews.com, Kamis (6/7).

Donny mengatakan, “ndeso” biasanya digunakan sesama teman dekat atau saudara sebagai lelucon atau sindiran halus yang tidak mengungkapkan makian, kemarahan atau kebencian. “Ndeso itu sindiran halus, bukan makian. Biasanya disampaikan karena intim dan menganggap lawan bicara itu saudara,” ujar Donny.

Terkait kasus Kaesang, Donny menilai bahwa Kaesang menggunakan kata “ndeso” karena menganggap sedang berbicara dengan sesama masyarakat Indonesia. “Kalau terkait Kaesang, dia kan bilang anak kecil kok diajarkan membunuh, lalu orang meninggal tidak boleh dishalatkan, itu ndeso. Ndeso di sini dalam konteks pemikiran. Maksudnya, kok di Indonesia yang yang beragam kok masih ngajarin anak kecil membunuh itu kan ndeso sekali,” ungkapnya.

Donny menambahkan, kata “ndeso” tidak berpotensi untuk dipermasalahkan dan dianggap sebagai kebencian. “Tidak pernah ndeso itu ditujukan untuk kemarahan atau dipermasalahkan, karena memang bukan berarti ujaran kebencian,” kata dia menjelaskan. [opinibangsa.id / pmc]


[beritaislamterbaru.org]

“Jika engkau punya teman – yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -‘baik’ itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali” [Imam Syafi'i]
Banner iklan disini

Resep