Pengakuan Pengungsi Rohingya: Tentara Myanmar Membakar Kami Hidup-hidup



Beritaislamterbaru.org - Para pengungsi Rohingya masih belum berhenti mengalir ke Bangladesh, puluhan ribu dari mereka menyesaki kamp-kamp penampungan. Mereka datang ketakutan, membawa luka menganga, dan trauma yang tidak bisa hilang dalam semalam.


Menurut relawan kemanusiaan di perbatasan Bangladesh, yang dikutip Associated Press (AP), Sabtu (2/9), lebih dari 50 pengungsi tiba dengan luka tembak dan dilarikan ke rumah sakit di Cox's Bazar, wilayah yang menampung ratusan ribu pengungsi Rohingya dekat Myanmar.


Para pengungsi yang tiba di desa nelayan Shah Porir Dwip mengatakan rumah-rumah mereka diledakkan, mereka dibunuhi, dan dibakar hidup-hidup.


"Kami lari ke Bangladesh untuk menyelamatkan nyawa kami," kata seorang pengungsi bernama Karim kepada AP.


"Militer dan ekstremis Rakhine membakari kami, membakar kami, membunuh kami, membakar desa kami," lanjut Karim.

Karim mengatakan sebanyak 110 orang Rohingya di desanya, Kunnapara, dekat kota Maungdaw, dibantai tentara. 


"Militer menghancurkan semuanya. Setelah membunuh Rohingya, militer membakar rumah dan warung-warung mereka," lanjut Karim.


Beruntung Karim dan keluarganya berhasil lari dari pembantaian. Dia harus rogoh kocek hingga 12 ribu taka Bangladesh atau sekitar Rp 2 juta untuk masing-masing anggota keluarganya agar bisa dilarikan dengan perahu kayu ke Bangladesh.


"Ada bayi yang baru berusia 8 hari, dan ada wanita tua berusia 105 tahun bersama kami," kata Karim lagi. 


Pencitraan satelit yang dianalisis lembaga HAM Human Right Watch menunjukkan ada ratusan bangunan yang hancur di 17 titik yang tersebar di negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus lalu. 


Saksi lainnya yang dikutip Al Jazeera pada Minggu (3/9) mengatakan anak-anak dibantai tentara Myanmar, rumah mereka dibakar.


"Rumah kami dibakar tentara. Kami mencoba kabur ke gunung, tapi mereka menembak mati dua anak saya bersama ibu mereka. Saya berhasil kabur dengan anak-anak saya yang lain," kata pengungsi Rohingya Jamal Hossein.


Pengakuan yang sama disampaikan pengungsi lainnya, Jalal Ahmed, yang tiba bersama 3.000 warga Rohingya lainnya di Bangladesh pada Jumat lalu. Ahmed berjalan kaki dari desanya, Kyikanpyin, ke Bangladesh selama hampir seminggu.


"Militer datang dengan 200 orang ke desa dan mulai membakar. Semua rumah di desa saya hancur. Jika kami kembali ke sana dan tentara melihat kami, mereka akan menembak," kata Ahmed.


Juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Vivian Tan mengatakan sekitar 73 ribu pengungsi telah menyeberang perbatasan Rohingya ke Myanmar sejak 25 Agustus lalu.

Karena banyaknya pengungsi, kamp pengungsi mulai kepenuhan. Relawan kemanusiaan juga mulai kewalahan karena banyaknya pengungsi yang membutuhkan perawatan kesehatan.


Banyak pengungsi Rohingya yang menderita gangguan pernafasan, infeksi dan malnutrisi. Fasilitas medis yang tersedia di perbatasan tidak mencukupi untuk merawat mereka. Saat ini yang paling dibutuhkan adalah obat-obatan dan tim medis.


kumparan
Banner iklan disini

Resep