Sesama Penjahat! Israel Jual Senjata ke Myanmar saat Pembantaian Rohingya

Sesama Penjahat! Israel Jual Senjata Myanmar saat Pembantaian Rohingya

Beritaislamterbaru.org - Kelompok pengawas hak asasi manusia Israel menemukan fakta baru tentang persenjataan yang dimiliki militer Myanmar selama terjadi pembantaian terhadap etnis Rohingya.

Seperti dilansir Independent, Jumat, 8 September 2017 dikutip dari viva.co.id, berdasarkan hasil investigasi aktivis HAM Israel, ternyata senjata militer Myanmar merupakan senjata-senjata yang berasal dari Israel.

Senjata itu dijual perusahaan Israel secara resmi ke Pemerintah Myanmar, salah satu perusahaan penjual senjata itu yakni TAR Ideal Concepts.

Hasil investigasi aktivias HAM itu menyebutkan, lebih dari 100 unit tank, kapal dan senjata api yang telah dibeli Pemerintah Myanmar ke perusahaan senjata Israel itu.

Tak hanya menjual senjata, perusahaan senjata Israel juga melatih pasukan khusus militer Myanmar di kawasan Rakhine Utara, wilayah yang diketahui sebagai lokasi utama pembunuhan etnis Rohingya.

Hal itu terungkap, dalam situs resmi perusahaan tersebut, pada situs itu ditampilkan bagaimana anggotanya mengajarkan taktik tempur dan operasi senjata ke militer Myanmar.

Seperti diketahui tindakan kekerasan militer yang dipicu oleh serangan gerilyawan pada 25 Agustus 2017, telah memicu krisis kemanusiaan. Lebih dari 400 orang telah terbunuh dan hampir 125 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Sementara itu, terkait penjualan senjata Israel ke Myanmar, Pengadilan Tinggi Israel akan menggelar sidang untuk memutuskan apakah akan mengeluarkan larangan penjualan senjata ke Myanmar, atau tidak. Sidang direncanakan akan gelar akhir bulan September 2017.

Sebelumnya, pada bulan Maret, Kementerian Pertahanan Israel menyatakan tidak melarang penjualan senjata ke Myanmar dan meminta Pengadilan Tinggi tidak ikut campur, dengan alasan pengadilan tidak memiliki yurisdiksi atas masalah diplomatik.

"Pemerintah Israel yang berurutan telah menjual senjata ke kediktatoran militer di Burma selama bertahun-tahun," kata Ofer Neiman, seorang aktivis hak asasi manusia Israel, mengatakan kepada Middle East Eye.

[www.beritaislamterbaru.org]
Banner iklan disini

Resep